welcome

selamat datang kawan semoga nyaman di galeri saya

News

Loading...

Total Tayangan Laman

Sabtu, 08 Juni 2013

keterampilan mendengar


Nama : Iman Gumelar
NIM : 1122030032
Kelas/Semester : PBA/2A



KETERAMPILAN MENDENGAR

Ada sejumlah istilah yang terkait dengan mendengar. Istilah yang sering terdengar sehari-hari adalah mendengar dan mendengarkan. Mendengar diartikan dapat menangkap suara (bunyi) dengan telinga, tidak tuli (Alwi, 2001). Dalam konteks komunikasi sehari-hari, mendengar juga diartikan proses kegiatan menerima bunyi-bunyian yang dilakukan tanpa sengaja atau secara kebetulan saja. Misalnya dalam kalimat “Saat sedang belajar, saya mendengar suara langkah kaki adik masuk ke dalam rumah”. Mendengarkan diartikan oleh Alwi (2001) mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh; memasang telinga baik-baik untuk mendengar. Mendengarkan adalah proses kegiatan menerima bunyi bahasa yang dilakukan dengan sengaja, tetapi belum ada unsur pemahaman .
Mendengar merupakan kata bentukan dari kata dengar. Kata tersebut sebenarnya diambil dari kata sami’a-yasma’u-sam’an yang berarti mendengar. Padanan kata mendengar dalam bahasa Arab adalah kata istima’ yang berarti mendengar dengan penuh perhatian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Mendengar diartikan mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau yang dibaca orang (Alwi, 2001). Kata mendengar dipungut dari bahasa Arab melalui bahasa Jawa nyemak dan juga sema’an yang lazim dipakai dalam kata sema’an Al Quran. Apabila diurutkan dari tingkatan aktivitas berfikirnya, urutan istilah tersebut adalah mendengar, mendengarkan, dan mendengar.
Peristiwa mendengar biasanya terjadi secara kebetulan, tiba-tiba, dan tidak diduga sebelumnya, sedang peristiwa mendengarkan lebih tinggi tarafnya dari pada mendengar. Apabila dalam mendengar belum ada faktor kesengajaan maka dalam peristiwa mendengarkan sudah ada faktor kesengajaan, sedangkan faktor pemahaman, berfikir memahami isi simakan tidak setinggi dalam mendengar karena tujuan dalam mendengar telah ditetapkan secara jelas. Apabila menyimak dibandingkan dengan mendengar dan mendengarkan, Mendengar mempunyai taraf yang tertinggi. Dalam mendengar sudah ada faktor kesengajaan dan lebih tinggi lagi karena dalam mendengar terdapat faktor pemahaman, berfikir memahami isi simakan. Faktor berfikir dan memahami makna, pesan, dan gagasan merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa mendengar. Bahkan lebih dari itu, faktor perhatian dan penilaian selalu terdapat dalam perstiwa Mendengar. Oleh karena itu, mendengar dikatakan sebagai proses yang rumit dan kompleks.
Mendengar merupakan salah satu metode yang digunakan manusia untuk memahami sekitarnya. Melalui proses menginterpretasikan apa yang didengar dari suara di sekitarnya, manusia dapat memahami orang lain dan lingkungan. Mendengar merupakan suatu proses mengorganisir apa-apa yang didengar dan menetapkan unit-unit verbal yang berkoresponden sehingga dapat ditangkap makna tetentu dari apa yang didengar.
Soedjiatno (1989) menjelaskan bahwa proses mendengar secara teoritis dimulai dengan penangkapan/penyerapan rentetan bunyi bahasa melalui indera telinga. Rentetan bunyi tersebut melalui syaraf sentripetal diteruskan menuju otak untuk diproses dan dianalisis. Dalam pemrosesan dan penganalisisan digunakan sejumlah alat. Alat itu ialah kegiatan otak dalam berolah fikir terhadap permasalahan tuturan, pengetahuan bahasa, kompetensi komunikatif, pengetahuan budaya, dan pengetahuan tentang topik. Apabila pemrosesan atas rentetan bunyi bahasa (unsur-unsur bahasa: gejala fonetik, kosakata, struktur) itu berhasil maka berarti penyimak mengerti atau paham akan makna pesan atau isi informasi yang terkandung dalam rentetan bunyi bahasa atau lambang bahasa mentah, melainkan lambang bahasa yang telah terproses menjadi konsep. Selanjutnya, melalui syaraf sentrifugal hasil pemrosesan itu dikirim ke otak kecil untuk di retensi.
Hakikat mendengar dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu (1) mendengar sebagai alat, (2) mendengar sebagai keterampilan, (3) mendengar sebagai proses, (4) mendengar sebagai respon, dan (5) mendengar sebagai pengalaman kreatif.
1. Mendengar sebagai Alat
Mnedengar sebagai alat berhubungan erat dengan tujuan mengapa seseorang itu mendengar suatu tuturan. Tujuan mendengar adalah mendapatkan ide, fakta, inspirasi, dan alat untuk menghibur diri. Ini berarti, mendengar merupakan alat untuk menerima informasi dalam berkomunikasi.
2. Mendengar sebagai Keterampilan
Mendengar merupakan keterampilan berbahasa yang sangat esesnsial. Keterampilan mendengar merupakan dasar untuk menguasai bahasa. Mendengar menjadi dasar berbicara karena berbicara diawali dengan menirukan bunyi-bunyi yang disimaknya. Bahasa yang digunakan dalam seseorang berbicara pada umumnya bahasa yang disimaknya. Keterampilan Mendengar juga mejadi faktor penting bagi kesuksesan seseorang dalam belajar membaca yang juga menjadi dasar untuk keberhasilan menulis.
3. Mendengar sebagai Proses
Mendengar adalah suatau proses besar yang meliputi (1) mendengarkan lambang lisan, (2) memahami, (3) menginterpretasi. Dalam mendengar terdapat proses mental dalam berbagai tingkatan mulai dari (1) mengidentifikasi bunyi, (2) proses pemahaman dan penafsiran, (3) proses penggunaan hasil pemahaman dan penafsiran, serta (4) proses penyimpanan hasil pemahaman dan penafsiran bunyi.
4. Mendengar sebagai Respon
Mendengar dikatakan sebagai respon karena respon merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan komunikasi. Frekuensi terbesar tujuan pembicara adalah untuk memperoleh respon dari penyimak. Seorang penyimak akan memberikan respon efektif apabila dia memiliki sensori yang memadai, ketertarikan, kemampuan menafsirkan pesan, hasrat, dan kemampuan menghubung-hubungkan. Wujud respon itu bermacam-macam, dapat berbentuk anggukan atau gelengan kepala, kerutan dahi, sikap tidak setuju, atau bahkan berbentuk tindakan atau perubahan tingkah laku.
5. Mendengar sebagai Pengalaman Kreatif
Mendengar bukan sekedar pemerolehan pengalaman secara pasif dan bukan keterampilan reseptif belaka. Mendengar merupakan keterampilan kreatif. Dalam mendengar, mula-mula seseorang menangkap bunyi-bunyi yang tertangkap oleh alat pendengarnya, menangkap kata-kata mentah, menyusunnya, menyusun bunyi yang bergelombang dan kata-kata mentah tersebut. Mendengar kreatif ini bersangkutan secara total terhadap pengalaman seseorang yang diwarnai kesenangan, kesukaran, dan kepuasan.
Karakteristik Keterampilan Mendengar
Mendengar merupakan keterampilan berbahasa reseptif lisan. Berbeda dengan membaca yang bersifat reseptif tulis, media lisan bersifat fana, begitu terdengar langsung musnah. Sebaliknya materi membaca dapat dilihat, diamati, dan dibaca berulang kali. Dalam satu unit waktu, penyimak hanya mampu menangkap klausa sedangkan dalam membaca, pembaca dapat menangkap kalimat dalam satuan waktu yang sama (Mahfudz, 2000).
Pemahaman terhadap teks lisan dapat dipermudah dengan adanya karakteristik-karakteristik tertentu dari bahasa lisan seperti keraguan dalam berbicara, perulangan, parafrase, menyampaikan maksud dalam unit-unit klausa, dan bukan dalam bentuk kalimat utuh, dan juga dibantu dengan isyarat-isyarat ekstralinguistik seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, dan isyarat-isyarat ekstralinguistik seperti gerak tubuh, ekspresi wajah, dan isyarat-isyarat situasional (Joiner dalam Mujianto dan Gatut, 2010). Pendengar juga dapat meminta penjelasan, meminta mitra bicaranya untuk menjelaskan atau mengulang informasi untuk memfasilitasi pemahamannya terhadap bahasa lisan yang dilisankan mitra tuturnya apabila memungkinkan.
Tujuan Mendengar
Secara umum, tujuan mendengar adalah untuk mendapatkan informasi. Informasi yang dimaksud dapat berupa paparan ide, gagasan, pesan komunikator. Informasi dapat juga berupa peristiwa, fakta, data, dan pengetahuan lainnya. Informasi ini sangat penting agar seseorang mengetahui peristiwa yang sedang menjadi perhatian banyak orang dan kecenderungan yang sedang terjadi sehingga seseorang tidak dikatakan ketinggalan informasi. Informasi tersebut juga sangat penting sebagai bahan untuk menganalisis suatu persoalan maupun untuk mendapatkan ide. Seringkali melalui kegiatan mendengar, seseorang memiliki ide untuk ditulis.
Tujuan mendengar untuk mendapatkan informasi tersebut sangat kental pada kegiatan mendengar berita, mendengar ceramah, mendengar khutbah, mendengar dialog, mendengar wawancara, dan mendengar pidato. Selain untuk mendapatkan informasi, mendengar juga memiliki tujuan-tujuan yang khas sesuai karakteristik wacana lisan yang disimak dan orientasi penyimaknya.
Tujuan mendengar sekunder tersebut misalnya untuk mendapatkan hiburan. Mendengar untuk mendapatkan hiburan terjadi pada kegiatan mendengar lawak, drama, atau dongeng. Dalam hal ini mendengar memiliki tujuan rekreatif. Hampir sama dengan tujuan ini adalah mendengar untuk mengapresiasi. Misalnya seorang mendengar pembacaan puisi atau nyanyian untuk mendapatkan kenikmatan melalui bait-bait puisi yang dibacakan atau dinyanyikan. Tujuan apresiatif ini dapat bergeser menjadi Mendengar evaluatif apabila penyimak mendengarkan lagu dengan tujuan menganalisis kemenarikan atau kekhasannya.

Jenis Mendengar
Secara garis besar, mendengar dapat dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu mendengar intensif dan Mendengar ekstensif.
Mendengar intensif memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi agar makna yang dikehendaki dapat ditangkap dengan baik. Mendengar intensif biasanya digunakan untuk memahami bahasa lisan formal, seperti mendengar kuliah, ceramah, dan khutbah. Melalui mendengar intensif, seorang penyimak tidak hanya mendapatkan informasi yang mendalam terhadap materi simakan, tetapi juga bisa mengevaluasi materi simakannya.
Mendengar ekstensif lebih menekankan pada faktor sosial, seperti Mendengar yang dilakukan oleh masyarakat secara umum dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar ekstensif ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemahaman secara garis besar terhadap bahan simakan. Tujuan mendengar ekstensif adalah agar seseorang tidak ketinggalan informasi. Dalam konteks sosial, seorang mendengar tuturan orang lain agar tercipta hubungan yang harmonis. Dengan mendengar secara ekstensif, seseorang dapat mengambil sikap yang tepat untuk merespon segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Share to